Thursday, 3 September 2020

Mengapa Data Pribadi Penting?

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke sebuah Sekolah Dasar. Saya kemudian berkenalan dengan seorang siswa kelas 5 dan sedikit ngobrol basa-basi. Namun perbincangan terhenti setelah saya menanyakan alamat rumah anak tersebut. Dia tidak mau menjawab dan hanya mengatakan bahwa itu adalah privasi yang tidak boleh saya ketahui.

Saya mencoba memahami jawaban anak tersebut dengan menyadari bahwa alamat rumah adalah informasi pribadi yang berhak dia rahasiakan. Akan tetapi, saya sebenarnya kaget karena banyak diantara kita abai seberapa penting data pribadi itu. Terlebih di era sosial media ini, banyak orang mengunggah lokasi keberadaannya, perasaannya saat itu, dan berbagai informasi pribadi lainnya di sosial media. Seseorang dengan mudahnya memberikan data-data, baik disadari atau tidak ke publik.

Gambar: Saat kita mengakses wifi, biasanya kita akan diminta mengisi data pribadi
    

    Secara umum, orang bisa menyebut data sebagai deskripsi dari sesuatu atau kenyataan yang dapat direkam, dianalisis, dan ditata ulang.[1] Sementara data pribadi adalah data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat, dan dijaga kebenaran serta dilindungi kerahasiaannya.[2]

Konsep ataupun definisi mengenai data pribadi sebenarnya cukup beragam. Ia tidak melulu informasi tentang urusan pribadi seseorang (domestic sphere), tetapi juga informasi tentang riwayat professional dan kehidupan publik seseorang (professional and public life) karena urusan pribadi seseorang juga beririsan dengan urusan publiknya (interpersonal relationship).[3]

Sekilas, informasi seperti nama lengkap, nomor handphone, alamat, nama orang tua, dan foto selfie tidak terlalu kita pikirkan untuk dibagikan di internet. Benarkah demikian? Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa data-data itu penting untuk dilindungi. Sebenarnya pelanggaran terhadap data pribadi ini sudah banyak terjadi, termasuk oleh perusahaan sekaliber Google dan Facebook. Penelitian dari IMDEA mengungkapkan bahwa lebih dari 70% aplikasi smartphone melaporkan data pribadi ke perusahaan pelacakan (tracking) pihak ketiga seperti Google Analytics, Facebook Graph API atau Crashlytics.[4]

Dua tahun belakangan ini Facebook mengalami serangkaian kasus berkaitan dengan data pengguna, mulai dari bocornya data 87 juta data pengguna yang melibatkan konsultan politik Cambridge Analytica sampai pada gugatan Jaksa Agung Washington DC Karl Racine karena dianggap melanggar privasi. Facebook diketahui mengumpulkan data pengguna yang kemudian dibagikan kepada pihak ketiga. Selama bertahun-tahun Facebook dilaporkan membiarkan data penggunanya diakses secara bebas oleh pihak ketiga.[5]

Sementara itu google juga dituntut atas kasus "Wi-Spy" yang mengambil data wifi rumah yang tidak dienkripsi, tanda pengenal, dan data pribadi lainnya. Data ini diambil dari mobil yang digunakan untuk proyek pemetaan Google Street View. Mereka dituduh melakukan pengumpulan data pribadi tanpa persetujuan pengguna. Atas kasus itu dan akumulasi dari 227 kasus pelanggaran data pribadi lainnya, Alphabet Inc, perusahaan yang menaungi Google dikabarkan harus membayar denda sebesar US$11 juta atau sekitar Rp153 miliar (US$1= Rp13,960).[6]

Atas apa yang selama ini terjadi dan bagaimana kultur masyarakat kita terhadap data pribadi, dalam hemat saya muncul setidaknya dua penjelasan. Pertama, masyarakat tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan dengan data pribadi kita. Di jaman internet ini, masyarakat seperti terhegemoni oleh informasi.

Dirjen Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kemenkominfo, Semuel Abrijani, dikutip dari CNN, setidaknya menyebut lima alasan pentingnya menjaga data pribadi yaitu, menghindari intimidasi online terkait gender, mencegah penyalahgunaan data pribadi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, menjauhi potensi penipuan, menghindari potensi pencemaran nama baik, dan hak kendali atas data pribadi.[7]

Masyarakat kita harus disadarkan akan pentingnya informasi pribadi ini. Selama ini kita merasa baik-baik saja membagikan informasi pribadi di internet. Namun, yang terjadi adalah data kita sangat berpotensi digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil untung dari akses informasi data kita.


[1] Viktor Mayer-Schönberger, Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work and Think (John Murray 2013), p 75.

[2] https://ppid.kominfo.go.id/jenis-informasi/inf-setiap-saat/data-pribadi-sistem-elektronik/

[3] https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt59cb4b3feba88/data-pribadi-dan-dua-dasar-legalitas-pemanfaatannya-oleh--daniar-supriyadi/

[4] https://theconversation.com/7-in-10-smartphone-apps-share-your-data-with-third-party-services-72404

[5] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190306090007-185-374901/data-facebook-bocor-kekayaan-zuckerberg-kini-hanya-rp878-t?

[6] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190723123046-185-414646/banyak-pelanggaran-data-pribadi-google-akan-didenda-rp153-m

[7] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190715201531-185-412391/5-alasan-mengapa-data-pribadi-perlu-dilindungi

Mengapa Orang Suka Membandingkan Sesuatu?

Pernahkah Anda dibandingkan dengan kakak atau adik Anda atau dengan anak tetangga? Pernahkah Anda mendengar perbandingan antara Indonesia dan Singapura? Atau negara bekas jajahan Inggris dengan negara eks jajahan Belanda? Adakah yang salah dengan perbandingan itu?

Berbagai perbandingan itu tidak akan muncul kalau kita tidak bisa mengakses informasi yang kita bandingkan. Misalnya, kita tidak bisa membandingkan antara hewan di planet pluto dengan hewan yang ada di bulan karena kita tidak bisa mengakses informasi mengenai itu.

Akan tetapi, kita juga tidak bisa serta merta membandingkan sesuatu walaupun kita bisa mendapatkan informasi mengenai sesuatu yang kita bandingkan.


Kita tahu bahwa sekarang ini, setiap orang bisa mengakses informasi dari berbagai sumber dan tempat dengan kecepatan yang optimal. Berbagai mesin pencari di internet mampu menemukan informasi yang orang cari dalam hitungan detik. Hal ini tidak terjadi pada orang-orang terdahulu sebelum munculnya internet; ketika manusia masih memanfaatkan bunyi-bunyian, asap, atau meminta bantuan burung untuk menyampaikan pesan dengan jarak dan informasi yang terbatas.

Sejak munculnya internet, orang bisa berbagi sekaligus mendapatkan banyak informasi dalam berbagai platform. Mereka bisa membagikan cerita kehidupan sehari-hari mereka, kondisi lingkungan mereka, atau bahkan keadaan negara mereka. Format informasinya pun tidak terbatas pada tulisan melainkan bisa menampilkan audio visual. Hal itu membuat jarak dan waktu seolah-olah tak berdaya di hadapan internet.

Dengan kemampuan yang demikian ekstensif, orang merasa bisa melihat realitas kehidupan di tempat yang bahkan tidak pernah mereka kunjungi. Konsekuensinya, orang kerap kali membandingkan situasi yang ada di sekitarnya dengan situasi yang mereka dapatkan di internet, di tempat lain. Misalnya, orang bisa membandingkan kehidupan di desa dan di kota, situasi di dalam dan di luar negeri, dan lain sebagainya. Sebagai perbandingan, hal itu sah-sah saja dilakukan.

Pertanyaannya adalah mengapa kita suka membanding-bandingkan sesuatu. Ini karena kita ingin mengetahui nilai dari perbandingan itu; manakah yang lebih diantara yang diperbandingkan! Sayangnya, kerap kali kita tidak apple to apple dalam membandingkan sesuatu itu. Perbandingan yang tidak setara itu dijadikan dasar untuk menilai sesuatu; satu hal lebih baik atau buruk dibandingkan sesuatu yang lain.

Sunday, 7 July 2019

Pencarian yang Hakiki


Orang sering menyimpul (ke)benar(an)
Namun semesta terus mengelak
Gejalanya mengungkapkan tidak
Fenomenanya mengucapkan bukan

Awalnya orang menyangka dari pendengaran
Tapi ia tak bisa beriba pada yang tuli

Kemudian ia mereken dengan penglihatan
Namun tak juga berempati pada yang buta

Lantas ia mempersepsi dari ucapan
Ah, bagaimana mewakili mereka yang bisu?

Ia lalu memadukan segala panca indera
Semua tiada bisa menjelaskan bagaimana batu merasa

Mereka terus mencari apa yang merepresentasiknnya
Belum juga menemukan bagaimana nasib bebatuan
Tiba-tiba angin berbisik menggerakkan dahan:
Bagaimana yang tak berbentuk bisa mencinta?

Yang dianggap usai sejatinya belum selesai
Semilirnya sekali lagi berwasiat,
Tiadalah pernah berhenti

Tilburg, 7 Juli 2019

Thursday, 13 June 2019

Sepeda (Fiets) di Belanda

Oleh: Mukh Imron Ali Mahmudi

Pit model ngene iki ngelengke aku karo ceritone Pae. Ngendikone Pae, tuku pit sakwise disunat iku dadi koyok ritual wong-wong mbien seng kudu dilakoni kanggo iming-iming wong sunat. Mergane, sunat mbien ki bedo yen dibandingke wong sunat saiki. Bedone opo? Yen sunat mbien, saiki wes mari. Yen sunate saiki, yo iki sek kroso to yo.

Jarene sih wong sunat mbien iku mangane opak usek, tahu tempe godok ra entok macem-macem. Yen ra ngono jarene sih aboh, njuk perih. La bocah saiki malah mangan sak karepe dewe, ono seblak, ono olos, tahu aci, megono, soto, bakso, daging, pangan kabeh. Malah koyo wong ngidam, pirang-pirang kudu dituruti. Mbokne seng repot.
Tapi ngene gais, mbalik neng Pit. Pit mau ki koyo dene hadiahe Bapak kanggo Anake. Semono ugo karo Pae, mbien yo ditumbaske Pit Unto karo Simbah. Pit mau banjur dadi banget pentinge kanggo Pae soale jaman semono ora akeh seng iso nduweni Pit. Pit mau ditumpaki moro neng ndi wae panggonan sak kemenge sikil. Mboh moro sekolah, madrosah, ngaji, ngaret, macem-macem pokoke numpak pit. Malah koncone Pae ono seng moro Pulo Bali numpak Pit. Edan pora kwi!

Pit Unto mau yo ora didol sampe Pae nikah. Malah nyampe aku lahir yo sek menangi kok. Ngerti-ngerti malah dikekne tonggoku. Saiki aku wes ra tau weruh Pit kui.

Ing jaman seng jare wong-wong barat kono jaman disrupsi, Pit iki mung dienggo karo bongso tukang tani, tukang matun, tukang angon kebo, sapi, wedus, lan rojo koyo liyane. Oh iyo, tukang ngingu truwelu, yen wong tuo, yo ngarite numpak Pit Unto. Pokoke mung generasi jaman-ora-enak seng iseh nganggo pit-pit model ngene iki neng ndesoku. Model liyane yo Pit Jengki, seng sadele atos tur njengat, marakke bokonge tepos lan panas.

Aku dewe sakwise sunat tukune pit Polygon seng ono kranjange. Jaman semono iseh usum wong-wong nduweni Polygon, apik ono lampune, sadele iso dimunggahmudunke, ono gigine dadi penak nggo banter utowo lindikan. Trus aku yo tuku skotlet, tak hias-hias, kei spion, macem-macem ben tonggone iri.

Tapi jaman SMA, wes ora akeh seng nganggo Pit. Opo maneh cah lanang, do ndue kleb motor. Dadi pantes yen do mbolos. Lah aku dewe malah rugi yen mbolos, wes kesel numpak pit adoh-adoh seko omah, malah ra melu pelajaran. Kan pekok. Yen tak eleng-eleng, sak sekolahan ki kiro-kiro mung wong 4 lanange seng nganggo Pit, liyane motor kabeh, ugo ono seng numpak angkudes utowo bis. Mboh saiki sek usum po ora bocah sekolah numpak Pit.

Lah iki seng aku heran, wong-wong Londo ki yen kuliah malah do numpak Pit Unto. Ngono ki yo pit e elek-elek san. Palek e nieng, rantene garing, renteng koyok meh tugel, kadang-kadang rem e blong. Tapi seng unik, gemboke ki apik-apik, koyo-koyo lueh larang tinimbang pit e. Mergane akeh wong maling Pit. Jan guris tenan seng dimaling Pit! Tapi mayan sih, regone kisaran 50 sampe ono seng saknduwure 100 yuro. Mangkane delok wae iku neng gambar, Pit e digembok nganggo rante digubet-gubetke neng parkiran, kadang-kadang rantene lueh gedi tinimbang rante asu.

Wednesday, 1 February 2017

Ban Hoax! (Eng)~

Ketika saya mengetik kata hoax di google, muncul di urutan teratas yaitu arti kata dalam bahasa inggris: a humorous or malicious deception (n) yang berarti sebuah penipuan lucu atau jahat. Tidak ada pengertian atau tautan berbahasa Indonesia yang muncul di halaman pertama search engine google untuk kata hoax. Memang, kata hoax belum diserap dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia sudah sangat sering menggunakan kata hoax dalam komunikasi sehari-hari maupun seminggu-minggu.
Baru-baru ini saya mengalami fenomena perhoaxan nasional. Kala perjalanan ke Solo dengan seorang jomblo, saya mendapati ban belakang motor saya bocor. Setelah berdebat lama akhirnya kami putuskan menambalkannya. Oke beres. Tapi setelah melanjutkan perjalanan dengan jarak tempuh (s) kira-kira 6,5 km lebih 3 meter plus 2 langkah bayi laki-laki umur setahun dengan kecepatan (v) 80 km/h, ban motor saya bocor lagi. Pertanyaannya, berapa waktu (t) yang digunakan untuk perjalanan kami? Tapi sebelum menjawab pertanyaan nggak berguna itu, akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke warung ban dan melakukan tambal ban dengan seksama tanpa proses perdebatan. Di tengah proses tambalisasi itu, si tukang berpendapat bahwa ban luar harus diganti karena ia mendapat temuan cacat yang bisa merusak ban dalam. Saya menuruti saja hasrat si tukang tambal itu. Agar variatif maka saya ganti ban dalam baru dan ban luar bekas sehingga tidak terkesan monoton. Oke. Masalah beres lagi.
Selang sepekan, ban saya kok bocor lagi. Saya jadi curiga, apa ada yang menublesi ban saya ketika saya berkendara atau bagaimana. Sontak saya langsung membaca buku-buku teori sosiologi klasik, modern, dan posmo untuk menganalisis fenomena ini,  akhirnya saya berhipotesa bahwa ban dalam motor saya yang saya beli di Salatiga itu adalah produk perusahaan kapitalis sehingga sudah dibatasi umurnya agar kita terus membeli dalam jangka waktu tertentu. Sial. Teman saya yang lain, jomblo juga, saya minta menambalkan untuk menguatkan hipotesis saya. Dan benar, malamnya langsung bocor lagi.

Oke, kali ini saya tak ingin dianggap seperti keledai, yang terperosok ke lubang yang sama sehingga saya bawa ke dokter spesialis ban Mas Tamtam, M.Bal,. Setelah riset panjang, mendengarkan argumen saya, bantahan dari teman saya, akhirnya Mas Tam bersintesis bahwa ban njobo saya adalah ban hoax. Ia menganalisis dari ukiran-ukiran yang ada di ban itu, ketajamannya, polanya, dsb. Ban tersebut adalah ban bekas yang diukir kembali menggunakan silet sehingga pola kembangnya terlihat dalam lalu dijual kembali pada konsumen ban jalanan. Ban tersebut terlihat bagus karena ukirannya masih dalam dan dipoles dengan bahan pengkilap supaya nampak baru. Eng ing eng.
Alih-alih sering digunakan dalam komunikasi, ternyata hoax kini sudah menjadi laku bagi sebagian orang. Sampai-sampai tukang tambal ban pun mengamalkan ini. Saya awalnya berniat sakit hati, tapi i'tikad mulia itu saya urungkan. Saya kembali menengok pada definisi hoax yang ada di google tadi bahwa ini hanya tipuan yang lucu. Meskipun ada pengertian lain yang mendefinisikan ini sebagai tipuan yang jahat, tapi saya pilih yang mula-mula saja biar tidak kecewa terlalu berlarut dan menghabiskan energi bangsa ini. Bagaimanapun juga, baik jahat atau lucu, yang namanya penipuan tetap pedih di mata, sobat. Jangan.
Pesan saya untuk tukang tambal ban: semoga anda bisa tetap melucu dengan cara yang elegan. Untuk konsumen ban bekas: tertawalah kalau banyak orang melakukan kelucuan. Tapi ingat, jangan lupa berbaik sangka karna ini hanya tipuan yang lucu. Meski menyakitkan.

#BanHoax
#TolakHoax
#TerimaKelucuan

Tuesday, 2 August 2016

Menawar Kwaci dengan Bahasa Inggris

~Siang tadi (30/7/'16) saya sholat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Usai sholat, saya melihat banyak orang melihat keindahan ukiran dan beberapa pameran yang ada di MAJT. Saya tertarik mendekati Bedug. Disana ada seorang yang kalau saya baca dari jidatnya adalah orang Pakistan yang juga sedang melihat bedug, sebut saja Rahul. Lalu terjadi percakapan diantara kami.
Rahul: أحبتي محد الط في المملكة الع ودة ربية الس العة ربية السعودية لم عودية لم ب في المملكة #zzzzz
Me: I'm sorry, i don't speak arabic (maaf, saya tidak berbicara bahasa arab) Hahaha! Sudah bicara panjang tapi dengan PD saya menjawabnya dengan bahasa Inggris.
Rahul: Oh yeah. What .... ..... .....
Malang benar, ia langsung membalasnya. Mulutnya mendrimimilkan tiga kalimat yang hanya bisa saya hitung jumlahnya tapi tak saya pahami maksudnya.
Me: Sorry? (Maaf?)
Rahul: ..... drum... praying...
Saya belum bisa memahami karena masih terlalu cepat & logatnya juga berbeda. Ah ini cuma alasan
Me: Pardon me (maaf ulangi)
Wajahnya menunjukkan kekesalan usai kalimat cepat dan panjangnya saya respons dengan dua kata.
Rahul: This is drummed before praying time, right? (Ini dipukul sebelum waktu sholat kan?)
Kalimatnya tak seperti yang sebelumnya. Ia berbicara lebih pelan dan sederhana.
Me: That's right. (Ya benar)
Mulai menangkap apa yang ia bicarakan
Rahul: Now? Is that still done until now? (Apakah ini masih dilakukan sampai sekarang?)
Me: Not more (tidak lagi)
Rahul: What are you? (Siapa kamu?)
Me: I'm student (Saya mahasiswa)
Rahul: Why are you here? (Kenapa kamu disini?)
Me: I just attend the agenda at the bottom floor (Saya menghadiri acara di lantai bawah)
Rahul: You are a student, but you can't speak english (Kamu mahasiswa, tapi kamu tak bisa bahasa Inggris)
Dia mengangkat tangannya seakan tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Saya langsung membayangkan ekspresi congkak Jose Mourinho ketika menjawab pertanyaan wartawan.

"Gundul-gundul pacul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul gembelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak ratan..."
Pie perasaanmu?
Saya langsung ingin nyanyi gundul-gundul pacul dan nari sufi mengelilingi orang tersebut.
Selama ini kita sangat jarang mendengar orang berbicara bahasa Inggris layaknya ia berbicara di pasar, menawarkan makanan, "cangcimen.. cangcimen, kacang kwaci permen", & orang marah secara natural dengan bahasa Inggris yang sama sekali berbeda dengan mendengarkan orang mempresentasikan makalah. Saya hanya mendengarkan orang nyanyi bahasa Inggris, atau percakapan di soal-soal listening TOEFL / IELTS, berbicara dengan native speaker hanya ketika meminta foto di tempat pariwisata & menjawab pertanyaan "Dimana saya bisa menemukan toilet?" saat konferensi Internasional atau pertanyaan "Apa password wifi di tempat ini?" & "Dimana tempat duduk mahasiswa asing?" ketika acara-acara seminar Internasional.

Hay bung, tunggu aku! Saya akan menawar kwaci dengan bahasamu!

Ps: percakapan diatas saya sederhanakan dan saya transkrip sesuai dengan apa yang saya tangkap. Kesamaan tokoh dan cerita hanya disengaja. Tak lebih.

Tuesday, 5 April 2016

7 Tips Jitu Ngadepin Ujian

Halo anak-anak SMA gawl yang lagi UN! Mungkin lo gak sempet baca ini karena lo lagi pada sibuk Twitteran ngatur strategi buat UN yah! Tapi kali aja kakak lo baca atau ada mahasiswa yang lagi nyari bahan buat copy paste makalah tapi malah nemuin tulisan gak berguna ini. Halo kak! Please share ke adek-adek lo yang besok UN ya. Oke, ini tujuh tips jitu dari gue:

1. Pastiin lo kelas XII SMA/Sederajat

Udah itu cek dulu gih Kartu Pelajar lo. Gue gak mau lo nyesel udah mbaca tips membahana ini tapi lo masih kelas 3 SD.

2. Persiapin alat

Malem sebelum lo ujian, persiapin deh tu alat yang lo butuhin buat ngerjain soal UN. Misalnya pensil 2B, penghapus 2B, penggaris 2B, dan HP 2B yang khusus buat UN aja. Kalo lo butuh kacamata, jangan lupa bawa yang 2B ya. Nggak usah bawa kacamata 3D apalagi kacamata buat nonton Gerhana Matahari, takutnya ntar malah jawaban lo ketutup ama bulan. Kan repot.

3. Belajar

Lo musti belajar mata pelajaran yang bakal diujiin. Lo gak perlu belajar nyetir dulu  karena ini UN, bukan ujian bikin SIM C atau casting sinetron anak jalanan buat jadi peran penggantinya Si Boy.

4. Dateng di Awal Waktu

Lo musti dateng ke tempat tes minimal setengah jam sebelum tes. Lebih lama lebih bagus. Tapi jangan lama-lama, ntar lo bosen nunggu dan mood lo berantakan. Cukup muka lo aja yang berantakan. Mood lo jangan.
Kenapa lo musti dateng awal? Karena lo musti ngecek tempat tes lo. Gue dulu nggak di kelas gue yang biasa soalnya. Jadi lo musti nyari, kali aja di kantin, di UKS, di mushola, di ruang BK, atau di sanggar Pramuka. Oiya lo juga nggak bisa duduk di posisi kesayangan lo atau di bangku yang bisa lo pilih seenak jidat kayak pas sekolah biasa. Sama kayak nasib percintaan lo, semuanya udah ada yang ngatur. 

5. Isi identitas

Lo musti lengkapi identitas lo di LJK. Kolom nama ya diisi nama. Kolom tanggal lahir ya diisi tanggal lahir. Kalo salah, dihapus. Kalo nggak tau, ditanyain. Kalo kebelet, ditahan. Kalo kentut, jangan bilang-bilang karena ini rahasia Negara, tidak diperjualbelikan!

6. Bertanya dengan Elegan

Kerjain soal yang mudah dulu yes. Kalo yang mudah udah semua, giliran yang tua susah. Kalo nggak bisa? Ya.. bertanyalah berdoalah. Barangkali paket soal lo beda sama temen-temen lo, jangan tanya sembarangan yes. Tanya sembarangan tu misalnya: “Lo udah putus belom ama pacar lo?” atau “Lo kentut ya?” Sekali lagi jangan! Lo juga jangan berharap lebih ke temen lo ketika lo tanya. Ntar di-PHP-in deh. Pertanyaan lo musti elegan. Misalnya: “Lo jadi sayang nggak sama gue? Kalo nggak kasih tau jawaban nomer 31 dong!” kalo belum berhasil lo musti naikin standar elegan lo. Kasih pertanyaan ke dia: “Gue ganteng nggak? Kalo nggak kasih liat jawaban nomer 23 dong!” Kasih plastik ke dia barangkali dia muntah. Trus tunggu jawaban dari dia, pasti dikasih deh!

Catatan gue: lo musti ati-ati! Jangan sampe gerak-gerik lo kegep sama pengawas ujian ya. Lo bisa nyamar pake pakean TNI atau pake daun-daun di kepala lo biar pengawas lo nggak tau. Tapi ntar pengawasnya malah bingung, lo mau ujian atau main Pain Ball! Oke lo bisa pake kode aja. Tapi yang perlu diinget, jangan pake kode yang orang lain nggak mudeng. Udah idup lo rumit, masih aja lo pake kode yang rumit saat UN. Jangan! Bagi lo remaja tunas kelapa, jangan pake sandi morse, nggak lucu lo mainan bendera saat UN! Juga jangan pake peluit ntar lo dikira wasit El Classico! Jangan pake kode batuk-batuk, kalo soalnya 50 ntar jadi paduan suara kalo semuanya ditanyain.
Tapi sebisa mungkin jangan tanya lah ya.. lo kan anak gawl, jadi kalo mau tanya buat pantes-pantes aja. Tanya kabar misalnya.

7. Periksa Jawaban

Lo musti teliti dan ati-ati! Lihat dulu perintahnya apa? Kalo suruh baca ya dibaca. Kalo suruh kerjain ya dikerjain. Kalo suruh pilih jawaban ya dipilih. Jangan sampe ada perintah yang nggak lo turutin. Jaga sikap juga ke pengawas, bayangin aja tu pengawas adalah calon mertua lo. Jadi lo musti sopan. Kalo bisa lo bawa mahar berupa kambing atau seperangkat alat sholat biar lo mendalami bayangan lo.

Itu aja dulu deh tips dari gue. Gimana? Nggak berguna kan? Yasudahlah nggak papa. Aku mah apa atuh. #Baper

Oke lo bisa nambahin di kolom komentar tips and trik ini biar waktu lo kebuang lebih banyak lagi ngurusin tulisan ini. Tengkyu J

Thursday, 26 November 2015

Mbak Bule dan Warteg~

Malam yang lapar itu aku duduk di warung tegal (warteg) Bu Dewi depan kampus MIPA Unnes. Tidak lama, seorang pelayan kecil segera menyuguhiku makanan yang sudah aku tunjuk dari luar kaca tempat menyimpan lauk pauk; nasi, kering tempe, teri, dan gorengan. Beberapa suapan berlangsung, ada seorang datang, masuk dari pintu samping kanan dari posisiku duduk, tampak asing, kulitnya putih, rambutnya dipocong pendek di belakang, dahinya berkeringat tampak gerah (kepanasan), mengenakan kaos putih, ujung samping kaosnya berhenti sampai lengan, ujung celananya jatuh sampai tepat di bawah lutut. Beberapa detik aku memandanginya karena cukup "beda". Dia foreigner atau bule atau orang luar negeri, aku simpulkan dari kenampakan fisiknya. Semakin yakin ketika mendengarnya melafalkan "es teh", dia mengucap "ais ti" setelah ditanya "Pesan apa mbak?" oleh anak kecil yang sama yang melayaniku tadi. Juga yang ia pesan adalah nasi, tempe kering, kentang, dan ikan bawal (atau nila) saya tak cukup tahu namanya karena dia hanya menunjuk saja tidak bicara dan pelayannya juga menanggapinya dengan "Oh ini, apa lagi, iya, terus?" dsb.
Sambil dibungkuskan nasi dan menunggu es teh yang ia pesan, ia mengeluarkan uang dari, entah dompet hadiah dari toko emas mana, tapi tampak simpel. Lalu ia segera mengeluarkan sejumlah uang yang disebutkan pelayan tadi. Belum sampai memberi uang pada pelayan, ada pelanggan perempuan lain (Indonesia) datang dari pintu yang sama. Karena jalannya tertutup oleh mbak bule tadi, pelanggan yang baru masuk itu mengucap "eks kyus mi" (tulis: Excuse me), terdengar fasih. Dan mbak bule pun menjawab "monggo..." terdengar tak fasih tapi tampak sangat seksi. Sialan, sangat sialan, pikirku sambil senyum-senyum. Mbak bule itu pun menukar uangnya dengan apa yang pelayan bawa, bungkusan nasi dan es teh. Dan segera keluar melalui pintu yang sama dengan ketika ia masuk. Berjalan. Menang, dia menang. Haha
(Nov'15/Smg)

Friday, 19 June 2015

Penampilan yang Kekinian

Dewasa ini penampilan menjadi sesuatu yang penting. Pepatah yang mengatakan bahwa 'jangan lihat buku dari covernya' nampaknya mulai tidak diindahkan. Bagaimanapun juga, penampilan adalah hal pertama yang dijadikan kebanyakan orang untuk menilai seperti apa karakter orang yang bersangkutan. Penampilan terkadang mencerminkan kepribadian seseorang. Hal tersebut menjadi kebenaran umum pada saat ini. Kita akan mudah menilai orang dari apa yang tampak pada seseorang tersebut. Bagaimana orang berjalan, berbusana, dan berbicara menjadi indikator yang tegak lurus atau linear dengan kepribadiannya. Semakin baik (cara ber)busana seseorang akan berkecenderungan menunjukkan semakin baik karakter orang tersebut. Tidak hanya itu, tinggi badan, berat badan, pun bau badan juga menjadi pertimbangan dalam menilai seseorang.
Meskipun demikian,penampilan tidak selamanya menunjukkan karakter seseorang. Bagaimanapun juga, dalam sosiologi juga dikenal istilah 'kejahatan kerah putih', yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang berdasi. Artinya, orang-orang berdasi yang notabene adalah orang yang berpenampilan baik pun bisa menjadi penjahat. Tak selamanya kejahatan dilakukan oleh preman bercelana bolong di lututnya. Namun masyarakat menganggap bahwa orang dengan bolong celana di lututnya sebagai yang layak diwaspadai pergerakannya. Padahal penulis juga mempunyai celana bolong di lutut kirinya dan sampai saat ini masih rajin mandi dua kali sehari, menuruti perintah ibu untuk membelikan terasi, membaca doa sebelum tidur, dan hal baik lainnya yang jarang diketahui orang. Dan, ... tak ada yang perlu diwaspadai pergerakan dari pemuda yang suka mengaji ini. Namun entah demam apa yang melanda masyarakat saat ini sehingga begitu mendewakan penampilan. Dengan kondisi masyarakat yang demikian, sudah menjadi barang tentu (meskipun belum tentu, pusing) seseorang akan memperhatikan penampilannya. Pilihannya adalah kalau seseorang tidak berusaha berpenampilan baik, maka minimal berusaha untuk tidak berpenampilan jelek.
Tulisan ini berusaha mengungkap bagaimana penampilan sangat penting bagi kita. Oleh karena itu dalam hal ini penulis merumuskan sebuah masalah yaitu, pie carane lemu? :-(

Just for fun :-)

Monday, 8 June 2015

Satu Meja

Hai, mau cerita dikit nih. Malem jumat (4/6) adalah hari pertamaku kerja pake otak. Kalau biasanya sih kerjaan gue ya ngerjain orang, dan itu gak butuh banyak otak. Tapi kerjaan gue kali ini pake otak dikit.
Awalnya gue di invite adek tingkat gue, trus di BM,
"Assalamualaikum, mas".
Gue agak deg-degan waktu itu, udah nebak-nebak aja, jangan-jangan dia agen Or*flame, Tupperw*re, atau Agen CIA (Ih waw!). Eh setelah gue jawab salam, dia BM lagi,
"Mas, mbak kos ku yg kerja di g****s school lagi nyari orang buat ngajar sosiologi.. buat besok aja.. mas bisa? Aku sofi mas, temennya ery haha" lanjut dia
"Bukan gue sumpah, bukan gue". Gue kira dia nyari orang ilang. Ternyata nggak! Agak mikir sih awalnya, singkat cerita gue ambil aja. Itung-itung ngerjain anak orang ngisi waktu nunggu wisuda. Hehe.
Pagi gue ketemu mbak-mbak itu, sorenya ketemu mas-mas (Ih waw!). Nggak!!! Sorenya gue ngehajar 4 kurcaci. Empat kurcaci korban kebrutalan gue adalah Anya, Keke, Difa (tapi sebut saja mawar), dan Indra. Mereka siswi (gue agak ragu kalo Indra itu cowok) SMA 6 Semarang. Sore itu pecah. Sore itu lucu, ngrepoti, dan ndak mutu banget. Materi pertama adalah Selfie biar keliatan santai, materi kedua becanda biar agak akrab, baru deh materi ketiganya Sosiologi biar keliatan serius. Eh, tapi pas materi ketiga mulai, waktunya malah ngajak habis. Dan disitulah letak pembelajaran yang sesungguhnya (Ih waw!). Tuhan, semoga mereka lulus Sbmptn. Amin.
Abis maghrib, gue lanjut ke Perum Semarang Indah (tapi gak indah-indah banget sih, masih Indah guru PKN gue waktu SMA) buat ngasih privat ke 2 anak kampret itu. Susah banget gue buat nyari alamat rumahnya. Eh, ngajarin mereka juga gak kalah susah ternyata, ntar biar budhe gue yang cerita ya (gaje). Tau gak? Gue diusir Ayu Tingting, *hiks, gara-gara salah alamat. Tapi gue gak nyerah buat nyari harta karun alamat itu. Setelah gue yakin alamat rumah yang bener, gue brenti depan gerbang. Daaaaaan, gak nyangka banget kan kalo kedatangan gue ditolak oleh demo massa mahasiswa Undip! Ya nggak lah, gue aja nggak nyangka! Tapi nyangka gak loh kalo kedatangan gue digonggongi anjing? Tapi, gue biarin aja tu anjing nggonggong, sementara kafilah berlalu. Dari dulu gue gak tau 'kafilah' tu siapanya 'Chairiyah', temen kelas gue. Yang gue tau, anjing nggonggong tu serem banget (buat gue).
Nggak lama ada anak cewek bukain gerbang. Asik nih. Tu anak yang bakal gue ajak bercanda ntar. Di pintu masuknya ada 1 anjing besar yang nyanyi. Agak takut gitu si masuknya, ampe loncat indah gitu buat ngehindar dari jurus kamehame si anjing. Wah, udah mulai gak beres nih, pikir gue pas mau masuk rumah karena miara anjing. Abis itu gue masuk, daaan, ada satu (anak) anjing lagi yang lagi main PS. Huh. Perjuangan boy. Abis itu gue suruh duduk sama tu anak, sementara dia ambil buku.
Abis itu anak itu nempatin kursi depan gue. Satu kursi lainnya dimeriahkan oleh Rey, sodaranya si anak tadi. Oke, gue mulai kenalan.
"Baiklah, nama saya Leonardo tapi biasa dipanggil Imron, dst..."
Trus dua orang depan gue juga kenalan, mereka Sarah dan The Explorer (panggilannya Rey). Sebelum gue mulai bercanda, kita berdoa dulu. Gue agak gugup, mereka Kristen, sementara gue (Insya Allah) Islam.
"Berdoa mulai"
Kita mulai berdoa dengan gaya kita masing-masing. Ada yang sambil angkat barbel, ada yang sambil nguleg sambel. Eh nggak. Gue perhatiin cara mereka doa, gue liat mereka akrab banget sama Tuhan nya, mereka tu doa sambil senyum dengan mata tertutup. Akrab banget kan? Sementara gue malah doa sambil ngeliatin mereka doa. Disitu kadang gue ngerasa malu.
Abis doa kita mulai becanda, nggak lah. Hidup gak sebercanda ini boy! Kita mulai belajar, diskusi, debat, serius nih. Lagi asik-asik diskusi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan gue. Gue juga dikejutkan dengan cakaran anjing di celana gue. Gue kaget ampe teriak! Kampret tu anjing. Mau gue kata-katain anjing tapi takut ntar dikirain manggil. Tapi itu sensasi banget.
Malem itu ada banyak warna di meja itu. Gue seneng banget bisa satu meja sama mereka. Bagi kita malam itu adalah Satu meja, dua doa, tiga manusia tertawa. Seneng. Siapapun dan dimanapun lo semua, semoga bisa ngasih manfaat buat orang-orang di sekitarmu yes.
Dah, gitu aja.
Maaf kalo ada kesamaan cerita, tokoh, dan tempat pada cerita ini. Jangan marah, karena cerita ini terjadi di planet Mars.
Jangan terlalu serius. Hidup tak sebercanda itu cuma buat mikirin tulisan kaya gini.

8/6/'15 02:18 WIB
Ruang Takmir Masjid