Sunday, 7 July 2019

Pencarian yang Hakiki


Orang sering menyimpul (ke)benar(an)
Namun semesta terus mengelak
Gejalanya mengungkapkan tidak
Fenomenanya mengucapkan bukan

Awalnya orang menyangka dari pendengaran
Tapi ia tak bisa beriba pada yang tuli

Kemudian ia mereken dengan penglihatan
Namun tak juga berempati pada yang buta

Lantas ia mempersepsi dari ucapan
Ah, bagaimana mewakili mereka yang bisu?

Ia lalu memadukan segala panca indera
Semua tiada bisa menjelaskan bagaimana batu merasa

Mereka terus mencari apa yang merepresentasiknnya
Belum juga menemukan bagaimana nasib bebatuan
Tiba-tiba angin berbisik menggerakkan dahan:
Bagaimana yang tak berbentuk bisa mencinta?

Yang dianggap usai sejatinya belum selesai
Semilirnya sekali lagi berwasiat,
Tiadalah pernah berhenti

Tilburg, 7 Juli 2019

Thursday, 13 June 2019

Sepeda (Fiets) di Belanda

Oleh: Mukh Imron Ali Mahmudi

Pit model ngene iki ngelengke aku karo ceritone Pae. Ngendikone Pae, tuku pit sakwise disunat iku dadi koyok ritual wong-wong mbien seng kudu dilakoni kanggo iming-iming wong sunat. Mergane, sunat mbien ki bedo yen dibandingke wong sunat saiki. Bedone opo? Yen sunat mbien, saiki wes mari. Yen sunate saiki, yo iki sek kroso to yo.

Jarene sih wong sunat mbien iku mangane opak usek, tahu tempe godok ra entok macem-macem. Yen ra ngono jarene sih aboh, njuk perih. La bocah saiki malah mangan sak karepe dewe, ono seblak, ono olos, tahu aci, megono, soto, bakso, daging, pangan kabeh. Malah koyo wong ngidam, pirang-pirang kudu dituruti. Mbokne seng repot.
Tapi ngene gais, mbalik neng Pit. Pit mau ki koyo dene hadiahe Bapak kanggo Anake. Semono ugo karo Pae, mbien yo ditumbaske Pit Unto karo Simbah. Pit mau banjur dadi banget pentinge kanggo Pae soale jaman semono ora akeh seng iso nduweni Pit. Pit mau ditumpaki moro neng ndi wae panggonan sak kemenge sikil. Mboh moro sekolah, madrosah, ngaji, ngaret, macem-macem pokoke numpak pit. Malah koncone Pae ono seng moro Pulo Bali numpak Pit. Edan pora kwi!

Pit Unto mau yo ora didol sampe Pae nikah. Malah nyampe aku lahir yo sek menangi kok. Ngerti-ngerti malah dikekne tonggoku. Saiki aku wes ra tau weruh Pit kui.

Ing jaman seng jare wong-wong barat kono jaman disrupsi, Pit iki mung dienggo karo bongso tukang tani, tukang matun, tukang angon kebo, sapi, wedus, lan rojo koyo liyane. Oh iyo, tukang ngingu truwelu, yen wong tuo, yo ngarite numpak Pit Unto. Pokoke mung generasi jaman-ora-enak seng iseh nganggo pit-pit model ngene iki neng ndesoku. Model liyane yo Pit Jengki, seng sadele atos tur njengat, marakke bokonge tepos lan panas.

Aku dewe sakwise sunat tukune pit Polygon seng ono kranjange. Jaman semono iseh usum wong-wong nduweni Polygon, apik ono lampune, sadele iso dimunggahmudunke, ono gigine dadi penak nggo banter utowo lindikan. Trus aku yo tuku skotlet, tak hias-hias, kei spion, macem-macem ben tonggone iri.

Tapi jaman SMA, wes ora akeh seng nganggo Pit. Opo maneh cah lanang, do ndue kleb motor. Dadi pantes yen do mbolos. Lah aku dewe malah rugi yen mbolos, wes kesel numpak pit adoh-adoh seko omah, malah ra melu pelajaran. Kan pekok. Yen tak eleng-eleng, sak sekolahan ki kiro-kiro mung wong 4 lanange seng nganggo Pit, liyane motor kabeh, ugo ono seng numpak angkudes utowo bis. Mboh saiki sek usum po ora bocah sekolah numpak Pit.

Lah iki seng aku heran, wong-wong Londo ki yen kuliah malah do numpak Pit Unto. Ngono ki yo pit e elek-elek san. Palek e nieng, rantene garing, renteng koyok meh tugel, kadang-kadang rem e blong. Tapi seng unik, gemboke ki apik-apik, koyo-koyo lueh larang tinimbang pit e. Mergane akeh wong maling Pit. Jan guris tenan seng dimaling Pit! Tapi mayan sih, regone kisaran 50 sampe ono seng saknduwure 100 yuro. Mangkane delok wae iku neng gambar, Pit e digembok nganggo rante digubet-gubetke neng parkiran, kadang-kadang rantene lueh gedi tinimbang rante asu.

Wednesday, 1 February 2017

Ban Hoax! (Eng)~

Ketika saya mengetik kata hoax di google, muncul di urutan teratas yaitu arti kata dalam bahasa inggris: a humorous or malicious deception (n) yang berarti sebuah penipuan lucu atau jahat. Tidak ada pengertian atau tautan berbahasa Indonesia yang muncul di halaman pertama search engine google untuk kata hoax. Memang, kata hoax belum diserap dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia sudah sangat sering menggunakan kata hoax dalam komunikasi sehari-hari maupun seminggu-minggu.
Baru-baru ini saya mengalami fenomena perhoaxan nasional. Kala perjalanan ke Solo dengan seorang jomblo, saya mendapati ban belakang motor saya bocor. Setelah berdebat lama akhirnya kami putuskan menambalkannya. Oke beres. Tapi setelah melanjutkan perjalanan dengan jarak tempuh (s) kira-kira 6,5 km lebih 3 meter plus 2 langkah bayi laki-laki umur setahun dengan kecepatan (v) 80 km/h, ban motor saya bocor lagi. Pertanyaannya, berapa waktu (t) yang digunakan untuk perjalanan kami? Tapi sebelum menjawab pertanyaan nggak berguna itu, akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke warung ban dan melakukan tambal ban dengan seksama tanpa proses perdebatan. Di tengah proses tambalisasi itu, si tukang berpendapat bahwa ban luar harus diganti karena ia mendapat temuan cacat yang bisa merusak ban dalam. Saya menuruti saja hasrat si tukang tambal itu. Agar variatif maka saya ganti ban dalam baru dan ban luar bekas sehingga tidak terkesan monoton. Oke. Masalah beres lagi.
Selang sepekan, ban saya kok bocor lagi. Saya jadi curiga, apa ada yang menublesi ban saya ketika saya berkendara atau bagaimana. Sontak saya langsung membaca buku-buku teori sosiologi klasik, modern, dan posmo untuk menganalisis fenomena ini,  akhirnya saya berhipotesa bahwa ban dalam motor saya yang saya beli di Salatiga itu adalah produk perusahaan kapitalis sehingga sudah dibatasi umurnya agar kita terus membeli dalam jangka waktu tertentu. Sial. Teman saya yang lain, jomblo juga, saya minta menambalkan untuk menguatkan hipotesis saya. Dan benar, malamnya langsung bocor lagi.

Oke, kali ini saya tak ingin dianggap seperti keledai, yang terperosok ke lubang yang sama sehingga saya bawa ke dokter spesialis ban Mas Tamtam, M.Bal,. Setelah riset panjang, mendengarkan argumen saya, bantahan dari teman saya, akhirnya Mas Tam bersintesis bahwa ban njobo saya adalah ban hoax. Ia menganalisis dari ukiran-ukiran yang ada di ban itu, ketajamannya, polanya, dsb. Ban tersebut adalah ban bekas yang diukir kembali menggunakan silet sehingga pola kembangnya terlihat dalam lalu dijual kembali pada konsumen ban jalanan. Ban tersebut terlihat bagus karena ukirannya masih dalam dan dipoles dengan bahan pengkilap supaya nampak baru. Eng ing eng.
Alih-alih sering digunakan dalam komunikasi, ternyata hoax kini sudah menjadi laku bagi sebagian orang. Sampai-sampai tukang tambal ban pun mengamalkan ini. Saya awalnya berniat sakit hati, tapi i'tikad mulia itu saya urungkan. Saya kembali menengok pada definisi hoax yang ada di google tadi bahwa ini hanya tipuan yang lucu. Meskipun ada pengertian lain yang mendefinisikan ini sebagai tipuan yang jahat, tapi saya pilih yang mula-mula saja biar tidak kecewa terlalu berlarut dan menghabiskan energi bangsa ini. Bagaimanapun juga, baik jahat atau lucu, yang namanya penipuan tetap pedih di mata, sobat. Jangan.
Pesan saya untuk tukang tambal ban: semoga anda bisa tetap melucu dengan cara yang elegan. Untuk konsumen ban bekas: tertawalah kalau banyak orang melakukan kelucuan. Tapi ingat, jangan lupa berbaik sangka karna ini hanya tipuan yang lucu. Meski menyakitkan.

#BanHoax
#TolakHoax
#TerimaKelucuan

Tuesday, 2 August 2016

Menawar Kwaci dengan Bahasa Inggris

~Siang tadi (30/7/'16) saya sholat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Usai sholat, saya melihat banyak orang melihat keindahan ukiran dan beberapa pameran yang ada di MAJT. Saya tertarik mendekati Bedug. Disana ada seorang yang kalau saya baca dari jidatnya adalah orang Pakistan yang juga sedang melihat bedug, sebut saja Rahul. Lalu terjadi percakapan diantara kami.
Rahul: أحبتي محد الط في المملكة الع ودة ربية الس العة ربية السعودية لم عودية لم ب في المملكة #zzzzz
Me: I'm sorry, i don't speak arabic (maaf, saya tidak berbicara bahasa arab) Hahaha! Sudah bicara panjang tapi dengan PD saya menjawabnya dengan bahasa Inggris.
Rahul: Oh yeah. What .... ..... .....
Malang benar, ia langsung membalasnya. Mulutnya mendrimimilkan tiga kalimat yang hanya bisa saya hitung jumlahnya tapi tak saya pahami maksudnya.
Me: Sorry? (Maaf?)
Rahul: ..... drum... praying...
Saya belum bisa memahami karena masih terlalu cepat & logatnya juga berbeda. Ah ini cuma alasan
Me: Pardon me (maaf ulangi)
Wajahnya menunjukkan kekesalan usai kalimat cepat dan panjangnya saya respons dengan dua kata.
Rahul: This is drummed before praying time, right? (Ini dipukul sebelum waktu sholat kan?)
Kalimatnya tak seperti yang sebelumnya. Ia berbicara lebih pelan dan sederhana.
Me: That's right. (Ya benar)
Mulai menangkap apa yang ia bicarakan
Rahul: Now? Is that still done until now? (Apakah ini masih dilakukan sampai sekarang?)
Me: Not more (tidak lagi)
Rahul: What are you? (Siapa kamu?)
Me: I'm student (Saya mahasiswa)
Rahul: Why are you here? (Kenapa kamu disini?)
Me: I just attend the agenda at the bottom floor (Saya menghadiri acara di lantai bawah)
Rahul: You are a student, but you can't speak english (Kamu mahasiswa, tapi kamu tak bisa bahasa Inggris)
Dia mengangkat tangannya seakan tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Saya langsung membayangkan ekspresi congkak Jose Mourinho ketika menjawab pertanyaan wartawan.

"Gundul-gundul pacul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul gembelengan, wakul ngglimpang segane dadi sak ratan..."
Pie perasaanmu?
Saya langsung ingin nyanyi gundul-gundul pacul dan nari sufi mengelilingi orang tersebut.
Selama ini kita sangat jarang mendengar orang berbicara bahasa Inggris layaknya ia berbicara di pasar, menawarkan makanan, "cangcimen.. cangcimen, kacang kwaci permen", & orang marah secara natural dengan bahasa Inggris yang sama sekali berbeda dengan mendengarkan orang mempresentasikan makalah. Saya hanya mendengarkan orang nyanyi bahasa Inggris, atau percakapan di soal-soal listening TOEFL / IELTS, berbicara dengan native speaker hanya ketika meminta foto di tempat pariwisata & menjawab pertanyaan "Dimana saya bisa menemukan toilet?" saat konferensi Internasional atau pertanyaan "Apa password wifi di tempat ini?" & "Dimana tempat duduk mahasiswa asing?" ketika acara-acara seminar Internasional.

Hay bung, tunggu aku! Saya akan menawar kwaci dengan bahasamu!

Ps: percakapan diatas saya sederhanakan dan saya transkrip sesuai dengan apa yang saya tangkap. Kesamaan tokoh dan cerita hanya disengaja. Tak lebih.

Tuesday, 5 April 2016

7 Tips Jitu Ngadepin Ujian

Halo anak-anak SMA gawl yang lagi UN! Mungkin lo gak sempet baca ini karena lo lagi pada sibuk Twitteran ngatur strategi buat UN yah! Tapi kali aja kakak lo baca atau ada mahasiswa yang lagi nyari bahan buat copy paste makalah tapi malah nemuin tulisan gak berguna ini. Halo kak! Please share ke adek-adek lo yang besok UN ya. Oke, ini tujuh tips jitu dari gue:

1. Pastiin lo kelas XII SMA/Sederajat

Udah itu cek dulu gih Kartu Pelajar lo. Gue gak mau lo nyesel udah mbaca tips membahana ini tapi lo masih kelas 3 SD.

2. Persiapin alat

Malem sebelum lo ujian, persiapin deh tu alat yang lo butuhin buat ngerjain soal UN. Misalnya pensil 2B, penghapus 2B, penggaris 2B, dan HP 2B yang khusus buat UN aja. Kalo lo butuh kacamata, jangan lupa bawa yang 2B ya. Nggak usah bawa kacamata 3D apalagi kacamata buat nonton Gerhana Matahari, takutnya ntar malah jawaban lo ketutup ama bulan. Kan repot.

3. Belajar

Lo musti belajar mata pelajaran yang bakal diujiin. Lo gak perlu belajar nyetir dulu  karena ini UN, bukan ujian bikin SIM C atau casting sinetron anak jalanan buat jadi peran penggantinya Si Boy.

4. Dateng di Awal Waktu

Lo musti dateng ke tempat tes minimal setengah jam sebelum tes. Lebih lama lebih bagus. Tapi jangan lama-lama, ntar lo bosen nunggu dan mood lo berantakan. Cukup muka lo aja yang berantakan. Mood lo jangan.
Kenapa lo musti dateng awal? Karena lo musti ngecek tempat tes lo. Gue dulu nggak di kelas gue yang biasa soalnya. Jadi lo musti nyari, kali aja di kantin, di UKS, di mushola, di ruang BK, atau di sanggar Pramuka. Oiya lo juga nggak bisa duduk di posisi kesayangan lo atau di bangku yang bisa lo pilih seenak jidat kayak pas sekolah biasa. Sama kayak nasib percintaan lo, semuanya udah ada yang ngatur. 

5. Isi identitas

Lo musti lengkapi identitas lo di LJK. Kolom nama ya diisi nama. Kolom tanggal lahir ya diisi tanggal lahir. Kalo salah, dihapus. Kalo nggak tau, ditanyain. Kalo kebelet, ditahan. Kalo kentut, jangan bilang-bilang karena ini rahasia Negara, tidak diperjualbelikan!

6. Bertanya dengan Elegan

Kerjain soal yang mudah dulu yes. Kalo yang mudah udah semua, giliran yang tua susah. Kalo nggak bisa? Ya.. bertanyalah berdoalah. Barangkali paket soal lo beda sama temen-temen lo, jangan tanya sembarangan yes. Tanya sembarangan tu misalnya: “Lo udah putus belom ama pacar lo?” atau “Lo kentut ya?” Sekali lagi jangan! Lo juga jangan berharap lebih ke temen lo ketika lo tanya. Ntar di-PHP-in deh. Pertanyaan lo musti elegan. Misalnya: “Lo jadi sayang nggak sama gue? Kalo nggak kasih tau jawaban nomer 31 dong!” kalo belum berhasil lo musti naikin standar elegan lo. Kasih pertanyaan ke dia: “Gue ganteng nggak? Kalo nggak kasih liat jawaban nomer 23 dong!” Kasih plastik ke dia barangkali dia muntah. Trus tunggu jawaban dari dia, pasti dikasih deh!

Catatan gue: lo musti ati-ati! Jangan sampe gerak-gerik lo kegep sama pengawas ujian ya. Lo bisa nyamar pake pakean TNI atau pake daun-daun di kepala lo biar pengawas lo nggak tau. Tapi ntar pengawasnya malah bingung, lo mau ujian atau main Pain Ball! Oke lo bisa pake kode aja. Tapi yang perlu diinget, jangan pake kode yang orang lain nggak mudeng. Udah idup lo rumit, masih aja lo pake kode yang rumit saat UN. Jangan! Bagi lo remaja tunas kelapa, jangan pake sandi morse, nggak lucu lo mainan bendera saat UN! Juga jangan pake peluit ntar lo dikira wasit El Classico! Jangan pake kode batuk-batuk, kalo soalnya 50 ntar jadi paduan suara kalo semuanya ditanyain.
Tapi sebisa mungkin jangan tanya lah ya.. lo kan anak gawl, jadi kalo mau tanya buat pantes-pantes aja. Tanya kabar misalnya.

7. Periksa Jawaban

Lo musti teliti dan ati-ati! Lihat dulu perintahnya apa? Kalo suruh baca ya dibaca. Kalo suruh kerjain ya dikerjain. Kalo suruh pilih jawaban ya dipilih. Jangan sampe ada perintah yang nggak lo turutin. Jaga sikap juga ke pengawas, bayangin aja tu pengawas adalah calon mertua lo. Jadi lo musti sopan. Kalo bisa lo bawa mahar berupa kambing atau seperangkat alat sholat biar lo mendalami bayangan lo.

Itu aja dulu deh tips dari gue. Gimana? Nggak berguna kan? Yasudahlah nggak papa. Aku mah apa atuh. #Baper

Oke lo bisa nambahin di kolom komentar tips and trik ini biar waktu lo kebuang lebih banyak lagi ngurusin tulisan ini. Tengkyu J

Thursday, 26 November 2015

Mbak Bule dan Warteg~

Malam yang lapar itu aku duduk di warung tegal (warteg) Bu Dewi depan kampus MIPA Unnes. Tidak lama, seorang pelayan kecil segera menyuguhiku makanan yang sudah aku tunjuk dari luar kaca tempat menyimpan lauk pauk; nasi, kering tempe, teri, dan gorengan. Beberapa suapan berlangsung, ada seorang datang, masuk dari pintu samping kanan dari posisiku duduk, tampak asing, kulitnya putih, rambutnya dipocong pendek di belakang, dahinya berkeringat tampak gerah (kepanasan), mengenakan kaos putih, ujung samping kaosnya berhenti sampai lengan, ujung celananya jatuh sampai tepat di bawah lutut. Beberapa detik aku memandanginya karena cukup "beda". Dia foreigner atau bule atau orang luar negeri, aku simpulkan dari kenampakan fisiknya. Semakin yakin ketika mendengarnya melafalkan "es teh", dia mengucap "ais ti" setelah ditanya "Pesan apa mbak?" oleh anak kecil yang sama yang melayaniku tadi. Juga yang ia pesan adalah nasi, tempe kering, kentang, dan ikan bawal (atau nila) saya tak cukup tahu namanya karena dia hanya menunjuk saja tidak bicara dan pelayannya juga menanggapinya dengan "Oh ini, apa lagi, iya, terus?" dsb.
Sambil dibungkuskan nasi dan menunggu es teh yang ia pesan, ia mengeluarkan uang dari, entah dompet hadiah dari toko emas mana, tapi tampak simpel. Lalu ia segera mengeluarkan sejumlah uang yang disebutkan pelayan tadi. Belum sampai memberi uang pada pelayan, ada pelanggan perempuan lain (Indonesia) datang dari pintu yang sama. Karena jalannya tertutup oleh mbak bule tadi, pelanggan yang baru masuk itu mengucap "eks kyus mi" (tulis: Excuse me), terdengar fasih. Dan mbak bule pun menjawab "monggo..." terdengar tak fasih tapi tampak sangat seksi. Sialan, sangat sialan, pikirku sambil senyum-senyum. Mbak bule itu pun menukar uangnya dengan apa yang pelayan bawa, bungkusan nasi dan es teh. Dan segera keluar melalui pintu yang sama dengan ketika ia masuk. Berjalan. Menang, dia menang. Haha
(Nov'15/Smg)

Friday, 19 June 2015

Penampilan yang Kekinian

Dewasa ini penampilan menjadi sesuatu yang penting. Pepatah yang mengatakan bahwa 'jangan lihat buku dari covernya' nampaknya mulai tidak diindahkan. Bagaimanapun juga, penampilan adalah hal pertama yang dijadikan kebanyakan orang untuk menilai seperti apa karakter orang yang bersangkutan. Penampilan terkadang mencerminkan kepribadian seseorang. Hal tersebut menjadi kebenaran umum pada saat ini. Kita akan mudah menilai orang dari apa yang tampak pada seseorang tersebut. Bagaimana orang berjalan, berbusana, dan berbicara menjadi indikator yang tegak lurus atau linear dengan kepribadiannya. Semakin baik (cara ber)busana seseorang akan berkecenderungan menunjukkan semakin baik karakter orang tersebut. Tidak hanya itu, tinggi badan, berat badan, pun bau badan juga menjadi pertimbangan dalam menilai seseorang.
Meskipun demikian,penampilan tidak selamanya menunjukkan karakter seseorang. Bagaimanapun juga, dalam sosiologi juga dikenal istilah 'kejahatan kerah putih', yaitu kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang berdasi. Artinya, orang-orang berdasi yang notabene adalah orang yang berpenampilan baik pun bisa menjadi penjahat. Tak selamanya kejahatan dilakukan oleh preman bercelana bolong di lututnya. Namun masyarakat menganggap bahwa orang dengan bolong celana di lututnya sebagai yang layak diwaspadai pergerakannya. Padahal penulis juga mempunyai celana bolong di lutut kirinya dan sampai saat ini masih rajin mandi dua kali sehari, menuruti perintah ibu untuk membelikan terasi, membaca doa sebelum tidur, dan hal baik lainnya yang jarang diketahui orang. Dan, ... tak ada yang perlu diwaspadai pergerakan dari pemuda yang suka mengaji ini. Namun entah demam apa yang melanda masyarakat saat ini sehingga begitu mendewakan penampilan. Dengan kondisi masyarakat yang demikian, sudah menjadi barang tentu (meskipun belum tentu, pusing) seseorang akan memperhatikan penampilannya. Pilihannya adalah kalau seseorang tidak berusaha berpenampilan baik, maka minimal berusaha untuk tidak berpenampilan jelek.
Tulisan ini berusaha mengungkap bagaimana penampilan sangat penting bagi kita. Oleh karena itu dalam hal ini penulis merumuskan sebuah masalah yaitu, pie carane lemu? :-(

Just for fun :-)

Monday, 8 June 2015

Satu Meja

Hai, mau cerita dikit nih. Malem jumat (4/6) adalah hari pertamaku kerja pake otak. Kalau biasanya sih kerjaan gue ya ngerjain orang, dan itu gak butuh banyak otak. Tapi kerjaan gue kali ini pake otak dikit.
Awalnya gue di invite adek tingkat gue, trus di BM,
"Assalamualaikum, mas".
Gue agak deg-degan waktu itu, udah nebak-nebak aja, jangan-jangan dia agen Or*flame, Tupperw*re, atau Agen CIA (Ih waw!). Eh setelah gue jawab salam, dia BM lagi,
"Mas, mbak kos ku yg kerja di g****s school lagi nyari orang buat ngajar sosiologi.. buat besok aja.. mas bisa? Aku sofi mas, temennya ery haha" lanjut dia
"Bukan gue sumpah, bukan gue". Gue kira dia nyari orang ilang. Ternyata nggak! Agak mikir sih awalnya, singkat cerita gue ambil aja. Itung-itung ngerjain anak orang ngisi waktu nunggu wisuda. Hehe.
Pagi gue ketemu mbak-mbak itu, sorenya ketemu mas-mas (Ih waw!). Nggak!!! Sorenya gue ngehajar 4 kurcaci. Empat kurcaci korban kebrutalan gue adalah Anya, Keke, Difa (tapi sebut saja mawar), dan Indra. Mereka siswi (gue agak ragu kalo Indra itu cowok) SMA 6 Semarang. Sore itu pecah. Sore itu lucu, ngrepoti, dan ndak mutu banget. Materi pertama adalah Selfie biar keliatan santai, materi kedua becanda biar agak akrab, baru deh materi ketiganya Sosiologi biar keliatan serius. Eh, tapi pas materi ketiga mulai, waktunya malah ngajak habis. Dan disitulah letak pembelajaran yang sesungguhnya (Ih waw!). Tuhan, semoga mereka lulus Sbmptn. Amin.
Abis maghrib, gue lanjut ke Perum Semarang Indah (tapi gak indah-indah banget sih, masih Indah guru PKN gue waktu SMA) buat ngasih privat ke 2 anak kampret itu. Susah banget gue buat nyari alamat rumahnya. Eh, ngajarin mereka juga gak kalah susah ternyata, ntar biar budhe gue yang cerita ya (gaje). Tau gak? Gue diusir Ayu Tingting, *hiks, gara-gara salah alamat. Tapi gue gak nyerah buat nyari harta karun alamat itu. Setelah gue yakin alamat rumah yang bener, gue brenti depan gerbang. Daaaaaan, gak nyangka banget kan kalo kedatangan gue ditolak oleh demo massa mahasiswa Undip! Ya nggak lah, gue aja nggak nyangka! Tapi nyangka gak loh kalo kedatangan gue digonggongi anjing? Tapi, gue biarin aja tu anjing nggonggong, sementara kafilah berlalu. Dari dulu gue gak tau 'kafilah' tu siapanya 'Chairiyah', temen kelas gue. Yang gue tau, anjing nggonggong tu serem banget (buat gue).
Nggak lama ada anak cewek bukain gerbang. Asik nih. Tu anak yang bakal gue ajak bercanda ntar. Di pintu masuknya ada 1 anjing besar yang nyanyi. Agak takut gitu si masuknya, ampe loncat indah gitu buat ngehindar dari jurus kamehame si anjing. Wah, udah mulai gak beres nih, pikir gue pas mau masuk rumah karena miara anjing. Abis itu gue masuk, daaan, ada satu (anak) anjing lagi yang lagi main PS. Huh. Perjuangan boy. Abis itu gue suruh duduk sama tu anak, sementara dia ambil buku.
Abis itu anak itu nempatin kursi depan gue. Satu kursi lainnya dimeriahkan oleh Rey, sodaranya si anak tadi. Oke, gue mulai kenalan.
"Baiklah, nama saya Leonardo tapi biasa dipanggil Imron, dst..."
Trus dua orang depan gue juga kenalan, mereka Sarah dan The Explorer (panggilannya Rey). Sebelum gue mulai bercanda, kita berdoa dulu. Gue agak gugup, mereka Kristen, sementara gue (Insya Allah) Islam.
"Berdoa mulai"
Kita mulai berdoa dengan gaya kita masing-masing. Ada yang sambil angkat barbel, ada yang sambil nguleg sambel. Eh nggak. Gue perhatiin cara mereka doa, gue liat mereka akrab banget sama Tuhan nya, mereka tu doa sambil senyum dengan mata tertutup. Akrab banget kan? Sementara gue malah doa sambil ngeliatin mereka doa. Disitu kadang gue ngerasa malu.
Abis doa kita mulai becanda, nggak lah. Hidup gak sebercanda ini boy! Kita mulai belajar, diskusi, debat, serius nih. Lagi asik-asik diskusi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan gue. Gue juga dikejutkan dengan cakaran anjing di celana gue. Gue kaget ampe teriak! Kampret tu anjing. Mau gue kata-katain anjing tapi takut ntar dikirain manggil. Tapi itu sensasi banget.
Malem itu ada banyak warna di meja itu. Gue seneng banget bisa satu meja sama mereka. Bagi kita malam itu adalah Satu meja, dua doa, tiga manusia tertawa. Seneng. Siapapun dan dimanapun lo semua, semoga bisa ngasih manfaat buat orang-orang di sekitarmu yes.
Dah, gitu aja.
Maaf kalo ada kesamaan cerita, tokoh, dan tempat pada cerita ini. Jangan marah, karena cerita ini terjadi di planet Mars.
Jangan terlalu serius. Hidup tak sebercanda itu cuma buat mikirin tulisan kaya gini.

8/6/'15 02:18 WIB
Ruang Takmir Masjid

Wednesday, 29 October 2014

Welcome :)

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Viva SMANSA!!!
Pertemuan pertama. Kalian membuat saya shock!
Entah provokatornya siapa, setiap ada salah satu dari kalian yang menjawab dg benar, maka kompak sekelas berdiri dan memberikan tepuk tangan. Riuh!!!
But, Life must go on!
Pertemuan terakhir. Membuat saya sedih.
So, Show has to stop here.
Halo IIS 1.. tepuk semangat,, (krik.. krik.. #hening) tak terasa udah 3 bulan ya..
Banyak suka duka pedih perih dan perasaan lainnya yang udah terlewati selama pertemuan dengan kalian. Kalian ngrasanya gimana? Biasa aja kaaan? Oke fix!
Saya mengucapkan banyak terimakasih (terimaksih, terimakasih, terimakasih, terimakasih, udah banyak belom?) untuk kalian semua yang telah bekerja sama dengan baik selama pertemuan dengan saya. Diantara hal penting dalam hidup saya adalah bertemu kalian semua. Saya kira, 3 bulan ini awalnya adalah waktu yang sangat lama, tapi saat ini saya merasa butuh waktu lebih lama lagi bersama kalian.
Mengenai pelajaran di kelas, Proses adalah hal yang sangat penting bagi saya. Saya lebih menghargai kalian yang bersungguh-sungguh walaupun hasilnya tidak sempurna, daripada kalian yang tidak membukakan pintu saat ada orang ketuk pintu, padahal yang dateng adalah Pak Yadi (haha parah!)
Setiap orang jenius pada bidangnya
Hey hey,,, kalian emang gak harus perfect sosiologi kok (mapel lain juga sih), saya nggak nuntut kalian buat 100% ahli sosiologi atau juga kalian gak harus jadi sosiolog kok, saya pernah sampaikan ini di kelas. Karena saya sangat percaya bahwa setiap orang, itu pasti jenius pada bidangnya masing-masing. Misalnya, Amelsa jenius di bidang tarik menarik suara (nyanyi), btw, keren! Semoga tercapai apa yg kamu cita2kan, kembangkan bakatmu, sekolah memang gak melulu cuma butuh kemampuan akademik, tp skill juga penting banget.
Trus juga Indah yg pinter nari, semoga kamu masuk Hubungan Internasional dan bisa jadi duta besar Indonesia, amin. Salam buat tukang gorengan depan rumahmu.
Trus buat Jihad Ammar yg jenius di bidang per-PASSUS-an, wah keren nih jadi pemimpin upacara. Tahun depan mimpin di Istana Negara yaa,,
Mada ahli Matematika, Alissa ahli Kimia, Seta ahli sulap, Salma jago Acting!, etc. Saya sangat menghargai itu.
Eh, Seta, Jumat (24/10) kemaren saya pinjem kacamatamu, gilak pusing bgt bro! Kamu minus berapa? Banyakin makan wortel ya. Fyi, wortel tu banyak mengandung vitamin A, tu buktinya kelinci yg suka makan wortel aja sampe saat ini gak ada yang pake kacamata. Iya kan? Iya dong? Iya gak sih? Iya’in aja lah!
Talitha, “Semuanya diaaaaaaam!!!” Pak Ipul suka niruin gaya kamu lho,,, gak ada lo gak rame laah.. oh iya, kucing kamu udah ketemu belom? Jangan suka nunda2 pekerjaan ya,, Jangan lupa main twitter belajar!
Mbak Salma Farhana nomer absen 24, jadi gak nih mau jadi wanita karir? Btw, salam ya buat mas bram. Kapan-kapan main catur lagi, latian dulu tapi, Ok?
Fanny, aku tau hobby kamu (ceileh, pake aku kamu) adalah minjem tipe-x milik Ellang!!!. Saat ujian sosiologi, di lembar jawaban ujianmu ada 18 x coretan tipe-x.  Anggep aja setiap pinjem kamu pake tipe-x 2 kali.  Jadi kamu pinjem 9 kali saat itu. Waktu hari Rabu (15/10/2014), saya jaga di ruang 6, saya hitung kamu pinjem 8 kali tipe-x Ellang, jadi rata-rata kamu pinjem tipe-x 8 kali tiap ujian. Jika ada 16 mata pelajaran yang diujikan secara tertulis, maka kamu pinjem 128 kali selama ujian. Jika selama 3 tahun ada 12 kali ujian (mid semester 1 kelas X, UAS 1 kelas X, mid semester 2 kelas X, UAS semester 2 kelas X, mid semester 1 kelas XI, UAS 1 kelas XI, mid semester 2 kelas XI, UAS semester 2 kelas XI, mid semester 1 kelas XII, UAS 1 kelas XII, mid semester 2 kelas XII, UAS semester 2 kelas XII) jadi 128 x 12 = 1536 kali. Ya ampun, bayangin aja, kamu pinjem tipe-x segitu banyak. Kalo satu tipe-x itu bisa digunakan sebanyak 300 kali coretan, maka Ellang harus 5 kali beli tipe-x buat memuaskan keinginan kamu! Ellang, kamu nomer absen berapa? Saya tambahin uang sakumu nilaimu!
Siti Nur Dzakiyyatul Khasanah, anak kedua dari empat bersaudara. Tetaplah menjadi kakak sekaligus adik yang baik untuk sodaramu. Ajarkanlah kepada adikmu hal-hal yang telah diajarkan oleh kedua orang tua kepadamu. Taatilah segala bentuk peraturan yang ada dirumahmu maupun peraturan lalu lintas. Jadilah pelopor keselamatan berlalulintas!
Dyastari & Aghitsna jangan diem aja. Apa yg kamu pikirkan nak? (muncul jiwa kebapakan). Jangan takut mencoba, salah gak akan membuatmu jadi kurus nak. Saya kurus bukan karena sering salah, tapi karena saya lupa bagaimana menjadi gendut. Semangat yaa.. bersama Allah apa sih yg tidak bisa?
Hey kalian semua... beraninya jangan sama anak kecil doooong! Riski Apriliani, sabar yaa... btw, udah tukeran nomer ama mas-mas yang duduk bareng pas MID apa belom? #bercanda
Indy, Assalamualaikum.. yang sabar ya,, temen2 suka gak jelas ketawain kamu. Tapi gak papa. Yang rajin ke mesjidnya ya,, Wassalamualaikum Indy..
Riski Ramadhan alias Jokowi alias Joker alias Joko Keren alias Amrozi (lhoh!) Selamat mengemban tugas 5 tahun kedepan ya.. semoga cepet dapet momongan.. #abaikan
Alifbatatsarel Andra Jihad Panghegar, namamu bagus. Saya sama bu Intan sering mengeja namamu.. Itu nama pertama yg kita inget2,, hehehe. Ada 1 lagi nama yg sering kita eja, yaitu Chindy Yanuar Lakanita Firaya. Katanya bu Intan mau pake namamu Chind, buat nama anaknya kelak. Boleh gak? Dimintain royalti sono,, eh kalian orang mana sebenernya? Unik!
Amal, kapan futsal? Kalo mau bener2 seneng futsal harus pinter sekolahnya. Dulu pas saya SMA, jarang banget masuk kelas gara2 ikut POPDA Sepak bola dan juga futsal. Ya bolos2 gara2 persiapan, latian, tanding, lomba, banyak lah.. tapi pelajaran gak boleh ketinggalan. Saya dulu malah sempet mau ikut Olimpiade konyol bareng Scoobidoo, hehee pinter bagi waktu yaa
Tangguh Prawira, kemane aja lo??!
C.Q.P. saya kira CQP tu siapa,, eh ternyata kamu (gaje kan?) jaga kesehatan ya, jangan males sarapan, makan siang juga, trus sore, malemnya juga. Jangan takut gemuk. Jangan takut gelap! Ngomongnya yg keras, jangan ragu.
Adhyatama Puteri & Shabrina, tetep rajin yaa.. banyakin baca buku, jangan malu-malu buat ngomong. Alon-alon asal klakon nikmati aja apa yg ada di depan,, satu lagi, witing tresno jalaran soko ngumbahi clono. Saya tunggu di Semarang.
Avrel, awalnya tak kira kamu itu cewek, eh,, ternyata bener, cowok, maaf yaa. HALA MADRID!!! Semoga jadi anak soleh.
Difa’ sukanya pake tissue diselipin di jilbab, lucu, hehe gak bisa lepas dari HP, nanti pas sama pak Mudhoaf jangan sekali2 main HP saat pelajaran yaa. Oiya, yakin aja, kamu pasti bisa! trus, saya minta dong foto2 atau video kegilaan IIS 1 saat jam sosiologi.
Iqbal, hobby banget nggambar saat pelajaran. Hmm... tapi btw kamu cocok kok sama Mada, dia kan hobby mewarnai, mewarnai hidupmu bal #eaaaa Mada jangan judes! Keep smile ya biar kaya Caesar.
Bayu, jangan main-main kamu bay, serius! yang ikhlas yaa, semua ada jalannya kok, nanti juga indah pada waktunya. Jagain fanny ya, kalian kaya kakak adek. Tapi kayaknya fanny agak takut sama kamu. Tetap bareng terus yaa, kaya Aurel sama mas Anang.
Rihay & Syifana, kalian gak kembar kan? Saya sering hati2 kalo mau manggil kalian, takut salah. Kalo salah dosa gak? Oke, kalian sudah melakukan yg terbaik.
Naufal sama Nafal, kompak nih. Tiap hari saya liat kalian itu makin serasi. Senin Selasa couple-an, rabo kamisnya juga, jumat sabtunya sarimbitan. Ciee,,, jangan2 jodoh? Semoga bahagia yaa.
“Jika ada sumur di ladang, bolehkah saya menumpang mandi
(karena air di rumah saya habis, btw, rumahnya siapa yg sumurnya di ladang?),
Jika ada umur panjang, bolehlah kita berjumpa lagi”.
Sedih ni udah perpisahan dan penarikan kemaren,
28 Oktober 1928: Sumpah Pemuda
28 Oktober 2014: Sumpah, Pemuda ini alay, Sumpah sakitnya tu di sini, Sumpah saya sedih.
Saya merasa beruntung sekaligus bersyukur bisa belajar di SMA N 1 Pekalongan, kalau boleh saya katakan, berada di Smansa itu seperti di dalam bejana emas. Jika kalian masih ingat cerita tentang emas, maka berusahalah untuk menjadi emas, tidak hanya cukup di dalam bejana emas. Tempat ini begitu nyaman, guru2nya inspiratif, banyak memberikan motivasi, murid2 teman2 yang sangat cerdas dan baik hati. Saya yg baru 3 bulan saja sudah merasakan itu, kalian (yang masih 2 tahun lagi di sana) seharusnya lebih bersyukur daripada saya, wujudkan itu dalam semangat belajar, belajar, dan belajar. Nikmati prosesnya, maknai setiap langkah2 kalian, hasil akhir adalah bonus. Tentu saja ketika kalian melakukannya dengan sepenuh hati, maka hasilnya pun akan memuaskan hati. Tetep ingat ya,, Sosiologi (dan Antropologi) itu; menghargai orang lain, menghargai lingkungan alam, menghargai kebudayaan. Coba kalian lihat di buku catatannya Riski Jokowi, apa pengertian belajar? Pastikan apa yg sudah kalian dapatkan itu bisa bermanfaat untuk kehidupan kalian sendiri, untuk orang-orang di sekitar kalian yg kalian sayangi, dan untuk bangsa.
Selamat bertemu dengan pak Mudhoaf, beliau orang yg sangat luar biasa, semoga kalian dapat bekerja sama dengan baik. Sampaikan salam saya untuk beliau.
Jangan main HP saat pelajaran yaa..
Maka saya hanya bisa mengucapkan terimakasih dan mohon maaf kepada kalian semua wahai teman2 X IIS 1 Angkatan 2014/2015. Tentu saja banyak kekeliruan dalam ucapan saya, perbuatan saya, diamnya saya, dan sebagainya. Itu semua semata2 supaya kalian tahu mana yang baik dan mana yang buruk, hehe. Kalian teman2 yg begitu  luar biasa. Saya akan ingat ini. Tepuk semangat!!! Sekian, Salam sejahtera untuk kita semuanya dan Wassalamualaikum Wr. Wb.
Viva SMANSA!!!
(29/10/2014) ~Pak Sosiologi

Thursday, 18 September 2014

Bicara Gender: Power and Powerless

Oleh:
Mukh. Imron Ali Mahmudi*
Lebih dari Kasus
Seorang Pria berkebangsaan Nepal, bernama Farid Sheikh bersama orangtuanya menyiramkan bensin ke tubuh sang istri yang baru berusia 25 tahun dan tengah hamil tujuh bulan. Saat kejadian itu, mereka membawa wanita itu ke India untuk pengobatan. Saat itu mereka mengatakan bahwa wanita itu mengalami kecelakaan. Kondisi wanita itu memburuk dan akhirnya keguguran. Sebuah kelompok pembela HAM Nepal mengatakan membawa wanita itu ke sebuah rumah sakit di ibu kota Kathmandu dalam kondisi kritis. Seluruh tubuh bagian bawah wanita itu penuh luka yang ditutup kain perban.
Kejadian ini terjadi pada bulan April. Namun baru dilaporkan ke kepolisian di distrik Banke, Nepal Barat oleh Ayah korban pada Selasa, 5 Mei 2014 setelah mengetahui kondisi kandungan putrinya mengalami keguguran akibat perlakuan buruk sang suami. Saat ini, Sheikh dan keluarganya masih menjadi buronan polisi karena dikabarkan menghilang.
Aksi brutal ini dilakukan sebagai upaya Sheikh menuntut mahar berupa sebuah sepeda motor dan seekor kerbau dari keluarga sang istri. Sang istri mengungkapkan bahwa si suami kerap menyiksanya dan mengatakan dia tak memberi mahar. Sang suami bahkan menyundut kemaluan istrinya menggunakan bara rokok. Di Nepal dan India, sesuai tradisi, keluarga mempelai wanita memberikan mahar yang diminta keluarga mempelai pria agar pernikahan bisa dilangsungkan. Meski pemerintah kedua negara itu melarang praktik pemberian mahar yang sering kali menyulitkan keluarga pihak wanita, tetapi tradisi ini masih terus dipraktikkan.
Dosa Ganda
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Astuti, 2011). Sementara itu, Huzaemah (2014) menjelaskan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual merupakan suatu bentuk penghinaan atau memandang rendah seseorang karena hal -hal yang berkenaan dengan seks, jenis kelamin atau aktivitas seksual antara laki -laki dan perempuan.
Dalam kasus ini, Sheikh secara umum dikategorikan melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dalam hal ini adalah dengan melakukan penyiraman bensin dan juga melakukan pembakaran. Selain itu, secara khusus dia juga melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap istrinya dengan menyundut alat kelamin istrinya dengan bara rokok. Bahkan lebih lanjut dia juga melakukan tindakan penipuan dengan mengatakan bahwa istrinya mengalami kecelakaan saat ditanya oleh petugas kepolisian mengenai keberadaan istrinya yang dibawa ke India untuk pengobatan.
Lebih lanjut, kekerasan yang dialami sang istri tidak hanya dalam bentuk kekerasan fisik dan seksual saja. Kekerasan yang dilakukan Sheikh sekaligus adalah termasuk kekerasan psikis. Kekerasan psikis sendiri menurut UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) (dalam Astuti, 2011: 97) adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Dalam kasus ini, sang istri tentu saja mengalami ketakutan yang mendalam serta tidak mampu berbuat apa-apa karena disiram bensin oleh suaminya bahkan juga dibantu oleh orang tua si suami. Tentu saja si korban tidak mampu melawannya. Selain karena kalah dalam hal jumlah, kondisi pada waktu itu adalah sedang mengandung bayi yang berumur tujuh bulan. Tekanan psikis tidak hanya dialami si perempuan pada saat kejadian, kekerasan yang dialaminya tentu saja akan menimbulkan rasa trauma dan juga malu pada kehidupan di kemudian hari yang akan dijalani si perempuan.
Astuti (2011:94) menjelaskan bahwa kekerasan perempuan merupakan produk sosial dan sosialisasi dalam masyarakat yang mengutamakan dan menomorsatukan kepentingan dan perspektif laki-laki, sekaligus menganggap perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah daripada laki-laki.
Pandangan tersebut mengandung konsekuensi bahwa laki-laki Nepal maupun India bisa saja memeras perempuan karena kebutuhannya berupa mahar pernikahan tidak dapat dipenuhi oleh perempuan yang dinikahinya. Dalam hal ini, sebenarnya pernikahan sudah terjadi, bahkan si perempuan sudah dalam kondisi hamil tujuh bulan. Namun karena mahar belum dipenuhi, si suami merasa memiliki piutang pada istrinya. Artinya, selama sang istri belum membayar hutangnya, selama itu pula ia dibawah kendali laki-laki. Perempuan dikondisikan dalam keadaan tergantung dan merasa berhutang budi pada suaminya. Sehingga  akses dan kontrolnya terbatasi dengan alasan hutang yang belum terbayar tersebut. Dengan kondisi yang demikian itu, sang suami seolah-olah bisa melakukan apasaja, dengan alasan belum terbayarnya hutang oleh si istri, termasuk melakukan tindakan kekerasan yang dalam hal ini adalah berupa pembakaran.
Lebih lanjut, Astuti (2011:94-95) juga mengungkapkan bahwa melebarnya pola-pola kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuknya, harus dijelaskan melalui konsep sosial; yakni bahwa struktur sosial yang memberikan hak-hak istimewa dan mengutamakan dominasi laki-laki akan direspons dengan pandangan-pandangan yang menganggap wajar sikap yang menomorsatukan kepentingan laki-laki dan mengesampingkan dan merendahkan perempuan, termasuk respons melakukan dan melestarikan tindak kekerasan terhadap perempuan.
Sejalan dengan hal tersebut, maka dalam hal ini laki-laki Nepal maupun India berhak menuntut sang istri yang belum membayarkan mahar sesuai dengan keinginan sang laki-laki. Dalam kasus ini, Sheikh, nama pria itu, menuntut mahar berupa kerbau dan sepeda motor kepada keluarga sang istri. Sang suami merasa memiliki hak-hak istimewa karena bisa menuntut mahar dari perempuan. Bagi masyarakat Nepal, Mahar yang diajukan oleh suami sering kali menyulitkan keluarga sang istri.
Sistem hukum di Nepal, juga India sesungguhnya mendukung dan memperkuat perbedaan gender yang bisa berakibat pada ketidaksetaraan (inequality) gender. Mosse (dalam Alimi, 2013) mencontohkan pada Bagian III konstitusi India yang meletakkan hak-hak dasar tertentu. Setiap warga negara dijamin persamaannya di depan hukum, diskriminasi dilarang. Tetapi konstitusi memuat sengat di ekornya berkaitan dengan perempuan. Ini menjadi kebebasan beragama menurut pasal 25 yang berbunyi tunduk kepada tatanan umum, moralitas, dan kesehatan...semua orang sama-sama memiliki hak kebebasan hati nurani dan hak menyatakan, melaksanakan dan mendakwahkan agama secara bebas. Bagian konstitusi ini mengandung makna bahwa perempuan Hindu, Islam, Parsi, Kristen, Yahudi, dan Perempuan suku tunduk kepada hukum personal masing-masing komunitasnya. Hukum personal merupakan kawasan yang amat mempengaruhi perempuan di Nepal juga India, yang menyentuh masalah-masalah seperti hak atas kekayaan, pemeliharaan, perceraian, pengangkatan anak, perwalian anak, dan poligami.
Dalam hal ini, sebenarnya pemerintah kedua negara, baik pemerintah Nepal maupun pemerintah India, sudah melarang praktik pemberian mahar yang sering kali menyulitkan keluarga pihak wanita, tetapi tradisi ini masih terus dipraktikkan. Karena konstitusi di kedua negara memang memberikan kebebasan untuk melaksanakan hukum personal baik dalam agama, adat, tradisi maupun hukum-hukum ‘istimewa’ lainnya secara bebas. Sehingga ketika sang suami menuntut mahar dari sang istri, pemerintah tidak bisa berbuat banyak dan juga secara otomatis pihak perempuan juga akan merasa berhutang sehingga menimbulkan kondisi yang tergantung dan terkendali pada suaminya sampai hutang dilunasi. Hal itu terus terjadi karena aturan itu tercantum dalam hukum personal bagian pernikahan, yang mengatur mengenai tradisi pemberian mahar oleh keluarga si perempuan kepada keluarga si laki-laki sesuai permintaannya agar bisa melangsungkan pernikahan.
Refleksi
Kekerasan seksual seringkali dianggap sebagai kejahatan terhadap kesusilaan semata. Dalam kasus pelecehan seksual, yang sering terjadi, pelakunya tidak dapat dijerat karena tidak mencukupi unsur kasus pencabulan atau perkosaan. Dalam kasus pencabulan, perkosaan, atau pelecehan seksual lainnya biasanya menghendaki adanya saksi hidup dalam peristiwa pelecehan tersebut untuk dapat diproses secara hukum. Dalam hal ini, saya beranggapan bahwa pembuat kebijakan tidak memperhatikan unsur kesesuaian logika berpikir riil dan juga unsur psikologis si korban. Untuk dapat melaporkan saja, si korban membutuhkan keberanian yang luar biasa, apalagi untuk memperjuangkan dalam menghadirkan saksi yang belum tentu ada karena sangat dimungkinkan pelaku akan bertindak karena memang ada peluang untuk melakukan pelecehan dengan si korban langsung, tanpa ada orang lain. Hal ini perlu diatur lebih bijak agar hak atas keamanan dan ketentraman baik laki-laki maupun perempuan bisa terjamin oleh negara.
Pelecehan seksual dan perkosaan dapat menimbulkan efek trauma yang mendalam pada korban. Korban pelecehan seksual dan perkosaan dapat mengalami stres akibat pengalaman traumatis yang telah dialaminya. Pelecehan seksual terhadap perempuan termasuk sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Oleh sebab itu, peran kita adalah ikut memikirkan bagaimana meringankan beban yang ditanggung oleh korban pelecehan seksual, dan ikut memikirkan bagaimana cara menekan jumlah kejadian pelecehan seksual di masyarakat.
Penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM perempuan, pemerintah, maupun masyarakat secara umum.
Pemerintah sebaiknya tegas dalam hal hukum personal yang mengatur beberapa persoalan yang penting terkait keberadaan laki-laki dan perempuan yang riskan menimbulkan kesenjangan. Pemerintah Nepal, juga India sebaiknya membatasi dakwah atau penerapan hukum personal yang dianut oleh warganya agar dilaksanakan secara bijaksana. Selama ini, pemerintah masih membebaskan warganya untuk melaksanakan hukum personal baik dalam agama, adat, maupun tradisi sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini tentu saja akan dimanfaatkan oleh oknum yang mengambil kesempatan atau keuntungan pribadi maupun kelompoknya untuk memuluskan kepentingannya. Apabila hal ini terus terjadi, pemerintah sebaiknya menggunakan kekuatannya untuk menggunakan hukum negara sebagai satu-satunya hukum yang sah bagi warga negaranya.
Masyarakat sebaiknya mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi para korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan.  Mengajak semua orang untuk turut terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.
Sebagai pelajaran, pelaku kekerasan baik terhadap perempuan maupun terhadap laki-laki sebaiknya dihukum sesuai dengan perbuatan yang dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek yang menimpa si korban. Karena kekerasan terhadap laki-laki atupun perempuan tidak hanya terkait dengan isu gender namun juga merupakan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia. Artinya, hukuman harus dijatuhkan dengan tegas kepada para pelanggar HAM agar tidak terus berlanjut karena lemahnya sanksi yang diberikan.
Daftar Pustaka
Alimi, M. Yasir. 2013. Kompilasi Bacaan Sosiologi Gender (Buku Ajar). Semarang:_____
Astuti, T. M. P. 2011. Konstruksi Gender dalam Realitas Sosial. Semarang: Unnes Press.
Hardoko, Ervan. 2014. Mahar Belum Dibayar Pria Nepal Bakar Istrinya yang Tengah Hamil. http://internasional.kompas.com/read/2014/05/06/1647446/Mahar.Belum.Dibayar.Pria.Nepal.Bakar.Istrinya.yang.Tengah.Hamil. (Kamis, 08 Mei 2014 jam 02:00 WIB)
Huzaemah. 2014. Pelecehan Seksual dan Protes Perempuan. http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/12/17/246515. (Kamis, 08 Mei 2014 Pukul 01:53 WIB).

* = Mahasiswa semester 6 yang sedang menempuh mata kuliah Antropologi Gender